Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menanti Biru

Sebuah cerpen karya muhammad faisal, yang mengangkat cerita dari lagu Langit Sore yang berjudul Muda dan Jatuh Cinta
Foto : Made by Canva


                Tidak ada yang pernah mengira kalau sore itu aku harus merasa perih lagi sebab luka yang aku yakin sudah sembuh. Tapi ternyata belum sembuh sempurna. Seperti sore ini, yang tanpa sebuah sayatan, luka itu terbuka lagi membuatku kembali sesak. Rasanya seperti baru kemarin aku tersayat pisau yang sangat tajam. Padahal itu terjadi sudah berminggu-minggu lalu.

            Sore yang menurutku langit sedang ceria-cerianya. Angin yang tak begitu kencang. Bahkan burung yang sedang bertengger dipohon cemara saat itu, kuyakin juga sedang menikmati suasana sore itu.

            Aku yang mengira sore itu takkan terjadi apa-apa. Memilih untuk pergi keluar dari kamar disudut rumah yang jadi tempatku menangis terisak-isak setiap kali mengingat dirimu yang sempat kulihat tertawa mesra di cafĂ© yang jadi tempat kita sering menghabiskan waktu bersama. Dan siapa yang mengira, kalau ternyata semua hal indah yang pernah kita lalui bersama tidak berakhir dengan keindahan juga. Bahkan sekarang, aku merasa aku hancur sendirian. Sedangkan kamu seperti hilang ditelan angin. Tak pernah sekalipun aku terima kabar dari kamu yang setidaknya menanyakan kabarku setelah kamu remukkan segala mimpi dan harapanku yang pernah aku rencanakan untuk kamu.

           

***

 

            Karena aku rasa kalau aku terus seperti itu, menyendiri dan menangis dibalik bantal, tentu saja aku takkan menangis didepan teman-temanku. Apalagi harus mempublish disosial media. Bahkan gak jarang juga aku tidak makan seharian. Karena memang nafsu makanku setelah melihat hal itu semua tiba-tiba hilang. Teman-teman ku pun sering kali menelpon, menanyakan kabarku yang sudah beberapa minggu tidak muncul di kelas. Mengingatkanku untuk menyudahi ini. Bersedih berlarut-larut, sampai harus melewatkan waktu makan. Mereka kira itu hanya akan menyiksa diri sendiri.

            Kau tahu? Sepertinya yang aku lakukan saat itu adalah hanya untuk mengemis perhatian darimu. Yang ternyata tidak sama sekali memikirkanku lagi. Dan bodohnya aku tidak menyadari hal itu. Aku pun masih dengan keyakinan penuh pada diriku sendiri bahwa kamu akan berbalik. Yang tiba-tiba akan menanyakan kabarku atau tiba-tiba datang kerumah untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. “Ah, tentu aku akan dengan senang hati memaafkanmu”. Dengan bodohnya aku masih berfikir untuk kembali menyayangimu. Setelah kenyataannya kau tak lagi pernah muncul dipermukaan berandaku.

            Kau mungkin juga gak pernah tahu sebesar apa harapan dan cita-cita yang sudah aku susun untuk kamu dan aku di masa depan. Tentunya setelah kuliah kita sama-sama selesai dengan baik.

            Aku sudah dengan sangat baik merencanakan usaha coffeeshop yang nantinya kita kelola sama-sama. Kamu yang mengelola dibagian keuangannya, aku yang mengurus untuk kualitas dan pelayanannya.

            Sebelumnya memang aku gak pernah cerita ke kamu atau siapapun. Masih hanya aku dan adikku yang tahu. Karena saat ini aku minta bantuan adikku untuk mengelola sementara disana. Karena coffeeshop yang sedang aku persiapkan untuk kita ada dikampung.

            Hah, rasanya masih belum bisa menerima kalau ternyata kamu memilih pergi.

 

***

 

            Itu sebabnya aku rasa aku hanya akan terus menyakiti diriku sendiri dengan terus berkhayal seperti itu. Mungkin bukan hanya badanku, tapi juga mental dan batinku yang akan semakin tersiksa. Aku rasa aku juga akan melewatkan banyak moment bahagia nantinya kalau terus bersedih tanpa arti seperti itu.

            Lalu sore itu aku memilih untuk menguatkan diriku sendiri. Dengan akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari rumah, menghirup udara segar lagi. Setelah berminggu lamanya aku mengurung diri dikamarku.

Setelah membereskan kamarku yang sudah berantakan gak karuan. Ah, seperti bukan kamar anak lajang kurasa. Buku-buku berserakan. Kertas bekas coretan-coretan yang gak jelas juga berantakan memenuhi lantai kamarku yang biasanya tertata rapih.

Aku pergi membawa sepedaku, gak tau mau kemana. Kemana saja pikirku, terserah tanganku membawa setir sepeda ini saja. Aku rasa aku perlu menemukan suasana baru. Daripada aku terus-terusan mengurung diri dalam kamarku, yang ada aku makin frustasi dan mulai berpikir bunuh diri nantinya. Ah, jangan sampai. Bodoh sekali rasanya aku jika sampai melakukan hal itu. Bodoh…bodoh…bodoh.

 

***

Aku tidak mengira, sore itu lenganku membawa setir sepeda yang kukayuh dengan santai ini melewati coffeeshop itu lagi. Tempat yang berhasil membuat aku terluka untuk pertama kalinya dalam percintaan. Karena melihat kamu duduk berdua menikmati langit sore di rooftop, saling bercanda lalu melahirkan tawa yang begitu romantis kulihat dari seberang jalan.

Aku gak pernah berpikir akan terjadi moment ini. Aku juga gak pernah mengira kalian akhirnya saling punya rasa. Bahkan aku gak berhasil menebak sejak kapan perasaan kalian saling terkoneksi. Karena kurasa, aku dan kamu sering menghabiskan waktu bersama. Kita hanya terpisah saat malam ketika hendak istirahat. Atau ketika kita libur kuliah dan pulang ke kampong kita masing-masing. Bahkan aku selalu ada saat kalian bertemu tanpa rencana. Karena kamu kekasihku, dan dia sahabatku.

Tentu kalian hanya akan bertemu, kalau aku dan sahabatku itu ada janji untuk bertemu. Kadang membahas tugas atau hanya sekedar nongkrong bareng. Lalu kapan? Atau kenapa bisa rasa diantara kalian muncul?.

Dan yang aku habis pikir adalah ke kamu. Kenapa bisa kamu tidak memikirkan perasaan aku waktu itu. Bagaimana aku ke kamu selama ini. Waktu yang kita lalui bersama-sama. Aku rasa aku selalu menyediakan waktu untuk kamu. Ada saat kamu ingin ditemani. Selalu menemani saat kamu sakit tempo hari. Ikut menemani kamu nyelesaiin tugas-tugas kamu. Bukan aku ingin mengungkit itu, bukan. Itu hanya pertanyaan dalam benakku ke kamu. Pertanyaan yang tak tersampaikan ke kamu. Jadi aku tak tahu jawaban dari pertanyaan itu.

Tapi kamu kemana?

Kamu tahu? Dulu, pagi adalah hal yang paling aku tunggu setiap hari. Hanya untuk segera bisa ketemu kamu lagi. Agar aku gak terlambat untuk jemput kamu di halaman rumah kamu dan kita berangkat ke kampus sama-sama.

Saat kamu duduk dibelakang jok motor ku yang aku rasa sudah terlalu tua untuk kita yang baru saja memulai romansa anak muda adalah hal sederhana yang membuat aku senyum bahagia sendiri sambil menyetir roda motor itu menuju kampus kita. Pun mungkin saja kamu mengintip senyum ku lewat spion yang sebagian kecil bisa kamu lihat dari tempat kamu duduk dibelakangku.

Kamu tahu? Dulu segalanya jadi hal favorit untukku selama itu dilalui bersama kamu. Melihat bintang di 5 Januari, karena kata kamu ditanggal itu langit sedang cerah-cerahnya. Sehingga bintang akan terlihat dengan jelas asal kita ada ditempat yang sedikit cahaya. Lalu kamu memilih atap rumah untuk melihat itu. Dan kita habiskan malam diatap itu, berdua. Ngobrolin banyak hal sampai yang absurd. Sampai langit mulai terang perlahan-lahan. Menampakkan kebiruannya menuju terang.

Kamu juga suka mengajakku jalan-jalan ke toko buku, hanya untuk baca buku terbaru dengan gratis. Bahkan sampai toko itu tutup. Kamu tahu? Sejak saat itu aku mulai suka dengan huruf-huruf yang tersusun rapih setiap lembarnya. Sebelumnya aku tak pernah suka membaca cerita-cerita dalam buku. Aku lebih suka menonton film. Ya bukan berarti aku mulai suka membaca karena terpaksa. Malah aku mulai merasakan “oh, begini rasanya masuk kecerita dalam buku”. Bagus kan? sebelumya aku sama sekali tak bisa merasakan hal itu. Tapi berkat kamu yang aku rasa punya dunia bebeda untuk membawaku ke kehidupan yang lebih seru.

Tapi berminggu setelah kamu hilang. Aku rasa aku kehilangan kuas untuk mewarnai hari-hariku yang biasa aku lalui sama kamu. Aku kehilangan kamu sebagai sosok yang mewarnai hidupku.

 

***

 

“Hah…” aku hanya bisa menghela nafas panjang kali ini. Sedang berusaha keras untuk meneriman ini. Menerima kamu yang sudah hilang. Menerima aku yang sekarang bukan lagi sosok yang kamu tunggu. Bukan lagi orang yang selalu menghibur kamu. Sekarang aku sedang belajar untuk bisa mewarnai hari-hariku sendiri.

Jujur, aku gak pernah mengira kalau akan sesakit ini jika gagal dalam urusan perasaan. Aku kira, dulu jatuh cinta adalah hal yang paling indah untuk dikenang. Iya benar, dulu. Bukan sekarang. Dulu saat semuanya baru dimulai, sedang hangat-hangatnya kita menjalani segalanya bersama. Pasti akan terasa sangat indah dan ingin terus begitu selamanya. Tapi rasa sakit dan sesaknya gak sebanding kalau kita gagal dengan harapan itu. Dan kita juga gak pernah mempersiapkan diri untuk hal ini bukan?. Siapa sih yang ingin menjalin hubungan lalu berpisah, takkan ada kurasa. Itu sebabnya aku tak pernah mempersiapkan diri untuk perpisahan ini. Dan itu berat. Sulit mendefinisikan sakit seperti ini. Tak terlihat. Tak bisa disentuh. Dan aku pun bingung bagaimana cara untuk menyembuhkan ini. Sudah kuceritakan bagaimana aku sebelumnya menghadapi luka ini. Dan kali pertamanya aku menguatkan diri untuk keluar rumah. Tapi akhirnya aku dibawa lagi untuk mengingat luka itu.

“Aaaaaaaaaaargh…” Tiba-tiba saja aku berteriak sekencang-kencangnya di ujung batu pantai ini. Tidak aku niatkan sebelumnya. tiba-tiba saja teriakan itu keluar. Saat kekecewaanku memuncak dan mengingat semua rasa sakit itu.

Tapi seketika aku sadar kalau aku ada dalam keramaian orang-orang yang berkujung dipantai ini. “Haduh”. Seketika aku merasa bego sendiri. melirik kanan-kiri ku, ternyata mereka semua menatap kearahku. Aku tak berani bergerak apalagi berbalik badan. Kakiku rasanya terpaku malu dengan teriakanku barusan. Setelah ku tarik nafas dalam-dalam. Aku duduk pada tumpukan batu pemecah ombak disana. Ya, berharap orang-orang akan kembali tidak memperdulikanku lagi.

 

***

 

Tapi setelah itu entah kenapa aku merasa lebih baik. Aku rasa lebih lega dari beberapa minggu sebelumnya. Iya, aku yakin ini benar-benar lebih ringan. Isi kepalaku juga rasanya lebih fresh. Magic banget, pikirku. Haha.

Langit sore itu mulai membiru menuju gelap. Tapi aku masih merasa nyaman ada disini. Perasaanku lebih tenang, menikmati deburan ombak yang bergulung-gulung menepi kepantai. Melihat nelayan yang mendorong perahunya dan beranjak meninggalkan pelabuhan. Sesekali aku menikmati perasaan legaku ini dengan menghela nafas.

“Kadang teriak itu emang bikin lega, tapi lihat-lihat sekitar dong, tadi orang-orang ngiranya kamu mau bunuh diri.”

Aku terkejut. Kenapa tiba-tiba ada suara yang nyeramahin aku.

Kulihat kebelakang punggungku. Ada seorang perempuan yang berdiri dengan membawa 2 cup minuman. Perempuan dengan kerudung biru dan cardigan berwarna cream dengan rok berwarna biru yang terkibas-kibas karena angin dari laut. Siapa dia? Malaikat, pikirku yang tidak serius. Haha. Mana ada hari gini malaikat datang memberi ceramah lalu tiba-tiba hilang. ini bukan film azab di televisi.

Lalu aku pun tersenyum dan tertawa sedikit karena masih merasa malu atas kebodohanku tadi yang tiba-tiba saja teriak.

“Hehe… oh ya?” Aku tidak menyangka kalau orang-orang sampai berpikir aku akan bunuh diri.

“Nih, minum dulu. Aku gak tau kamu suka apa enggak. Ya semoga aja suka, biar gak mubadzir.” Dia menyodorkan 1 cup minuman yang dipegangnya. Wah, ternyata es kopi susu yang dia bawa. Keren juga perempuan ini, cewek tapi suka kopi. Aku sendiri suka tapi jarang sekali minum kopi.

“Untukku? Wah thank you.” Aku rasa karena aku sudah merasa lega dan lebih fresh. Sehingga bisa menyambut dia yang datang tanpa kuduga dengan hangat. Ya, aku kira tidak akan sama kalau aku masih dalam keadaan kecewaku sebelumnya.

“Biru” Dia ikut duduk disebelahku sambil berkata Biru.

“Hah?” Aku bingung dan mengira dia bicara kurang jelas, sehingga aku hanya mendengar kata biru.

“Namaku Biru.” Dia kembali mengatakan biru dan membuat aku paham ternyata dia memberi tahu namanya barusan. Bagus juga namanya pikirku, Biru.

“Gimana? Sudah lebih baik?” Tiba-tiba dia melanjutkan dengan pertanyaan yang membuatku sedikit tersenyum dengannya. Aku berpikir dia adalah perempuan unik sore itu.

“Iya, sudah lega. Aku juga mikir, kenapa gak dari kemari-kemarin aja aku teriak. Padahal aku bisa teriak kapan saja.”  Kami membiarkan obrolan yang tanpa rencana itu mengalir saja.

Dia bercerita, kalau dia pun tiba-tiba kaget mendengar teriakan saat baru saja masuk kedalam coffeshop. Ketika dia cari sumber teriakan yang berasal dari aku, dia memperhatikan aku yang ternyata sendiri. Seketika dia berpikir mungkin aku sedang tidak baik-baik saja. Aslinya memang benar, bukankah sebelumnya aku tidak baik-baik saja. Lalu dia memutuskan untuk memesan 2 cup kopi dan berjalan menghampiriku.

Aku pun beritahu ke Biru, kalau aku teriak tadi spontan. Tadi aku hanya terbawa kenangan masalalu yang membuatku sangat kecewa. Spontan saja. Aku juga bingung kenapa aku bisa teriak sebegitu kencangnya. Ya memang, setelah itu aku benar-benar lega.

Sore itu, sambil menunggu biru langit yang menggelap aku dan Biru banyak bertukar cerita. Tentang dirinya, tentang diriku. Tentang keluarga dia, tentang keluargaku juga. Sedikit tentang masalalu dia, juga sedikit tentang masalaluku.

 

***

 

“Makasih banyak ya Ru.” Ucapku tiba-tiba yang tadinya kami saling diam. Menatap bintang dilangit yang sama.

Setelah banyak cerita untuk mengisi pertemuan kami hari ini. Seketika kami saling hening. Aku senyum sendiri. mengingat aku beberapa minggu lalu sudah seperti ayam potong yang tak punya gairah hidup. Tapi pada akhirnya aku sedang ada dititik ini. Di sore yang membawa aku kepantai ini, lalu berteriak yang membuatku lebih lega. Dan tuhan pun menghadirkan sosok Biru.

Bukan karena Biru sosok perempuan lalu aku akan berpikir berpaling ke Biru setelah rasa sakit dan kecewa. Walaupun tidak menutup kemungkinan itu akan terjadi. Tapi untuk saat ini. Aku senang ada Biru, karena aku merasa bisa lebih menerima kenyataanku saat ini. Tentang rasa kecewa dan sesak dada yang kadang masih memenuhi ruang nafasku. Biru bilang, “gak papa, gak perlu dipaksa lupa, gak perlu dipaksa sembuh. Kalau dipaksa yang ada makin lama. Ikhlasin aja, terima saja. Kalau tiba-tiba sesak, nikmatin aja. Pelan-pelan, nanti juga sembuh sendiri.”

“Haah..” Aku menghela nafas, tiba-tiba.

“Sekarang aku gak apa-apa. Aku rasa aku akan bisa bertahan. Aku rasa aku akan baik-baik saja. Dan aku yakin sekarang aku bisa melanjutkan cerita hidup ini tanpa kamu”. Kataku dalam hati. Untuk mengajak diriku sendiri terbiasa berjalan sendiri dan bisa sembuh untuk luka itu.

 

***

 

“Iya sama-sama” Biru menjawab ucapan terimakasih ku tadi.

Kami masih menikmati malam yang cerah sisa sore tadi. Dengan lampu-lampu perahu nelayan yang sudah jauh dari bibir pantai. Sembari berdo’a agar malam ini para nelayan menangkap banyak ikan. Aamiin.


 

1 komentar untuk "Menanti Biru"

  1. selamat membaca kawan-kawan, semoga cerpen-cerpen saya menghibur waktu luang kawan-kawan ya

    BalasHapus