Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendakian Gunung Sibayak | gunung sahabat pendaki - pendakian pertama

 kisah pendaki gunung sibayak, penadaki pemula gunung sibayak, cerita menarik saat mendaki gunung sibayak.



    Hai, apa kabar kamu, sehat kan? harus sehat dong ya, soalnya masih banyak mimpi yang harus digapai kan?
    Cerita kali ini versi terupdate ya, soalnya aku sudah akan benar-benar konsisten, aminin ya :)
    Nah, bagi kamu yang berasal dari Medan atau sekitarnya. Pasti udah gak asing lagi dengan nama gunung Sibayak, dan yang pastinya akrab kali lah ya, sampai disebut juga gunung sahabat para pendaki.
    Nah jadi buat kamu yang mungkin belom pernah ke gunung Sibayak, dan buat temen -temen yang dari luar Sumatera Utara, bakal aku kenalin nih gunung Sibayak ini, Dari pengalaman aku saat pertama kali mendaki gunung. Ya, semoga nanti kamu bisa membayangkan perjalanan ini.

    Cerita awal

    Dulu, waktu aku masih kelas 1 SMK, masih baru masuk sihl, sekitar thn 2013. Jadi aku suka sama alam itu, karena dulu waktu sering ikut kegiatan pramuka di SMP, karena kondisi kan jauh dari orang tua, makanya bebas mau kemana aja. Ya saat itu juga sebenarnya belum tau apa tujuannya ikut ikut pramuka. Tapi udah ikut aja.
    Lalu di SMK ini aku ketemu guru yang super gokil, asli!, kalau kata dia, " enak lah kelen ada gilak-gilaknya" πŸ˜‚, buat kamu yang satu sekolah dengan aku pasti tau lah ya, sangkin gilaknya kami cowok satu kelas sepakat manggil dia "Grandong πŸ˜‚", akhirnya berubah jadi " Grande", (kayak minuman kopi yak?), buat bapak, maaf kan kami, ini hanya sebuah cerita πŸ™.
    Oke baik, anggap saja kita sudah dimaafin, lanjut ya?.
Nah, singkat cerita, pas lagi belajar aku tengok di laptop dia ada stiker "Medan Petualang" singkatannya "MenPut", tapi bukan "Medan Putri" ya, (kelen anak Medan pasti senyum-senyum bayangin Medan Putri)
Dan rupanya setelah aku telusuri, rupanya bapak itu hobi juga sama alam, jadi kutanyaklah, "pak, bapak sering naik-naik gunung?", " sering!" katanya, terus disambungnya lagi, "gunung yang itu pun sering" katanya πŸ˜‚πŸ˜€, tapi sambil bercanda ya, jangan nanti kelen anggap serius.
Jadi kutanyak lah, "pak, kapan kita mendaki, aku ikut ya?", " boleh, nanti kalau ada libur mendaki kita!" gitu katanya, "iya, mendaki kemana kita pak?" kutanyak lagi, "yang dekat aja, ke Sibayak!" gitulah kira-kira percakapannya, gak ingat pasti  abang, udah lama kali itu.
Oke, udah lewat lah ya, masa belajarnya gak usah dibahas lah ya, apa kali nanti πŸ˜‚.
Jadi ini liburan Idul Adha 2013 kalau gak salah, abang liburan, tapi gak pulang kampung, jadi diajak bapak itu berangkat naik gunung Sibayak.
Disuruhnya abang ngajak kawan, soalnya dia bawa kawan, karena berangkatnya naik kereta(motor kalau orang jakarta bilang). Nah karena abang nginap dirumah kawan abangabang ajak aja dia, karena kami janjian nunggu bapak itu disimpang Tuntungan.
Agak deg-degan juga izin sama mamak si kawan ini, soalnya agak anak mami sikawan ini. Jadi dapatlah izin, sekitar jam 5 sore kami berangkat, karena kami naik angkot, jadi agak abang bahas sedikitlah ya tentang transportnya.
Rute ke gunung Sibayak dari Medan kota
Jadi kalau kelen mau ke gunung Sibayak ini dari Medan kota, kelen ikuti aja rute ini, kalau kelen gak dari Medan kota, kelen ikuti aja lah jalannya.
Pertama, dari manapun kelen kalau udah sampe di kota Medan, kelen naik angkot yang tujuannya ke Padang Bulan (simp. Pos).
Kalau abang dari Marelan, jadi naik angkot kuning 110 (di Medan angkot dilihat dari nomornya, kalau di Jakarta yang dilihat warnanya). Kalau kelen dari Marelan naik ini aja, atau kalau angkot kuning 110 lewat rumah kelen, naikin aja. Nah kalau kelen yang gak lewat angkot itu, tanyak mamak kelenlah kalau mau ke Padang Bulan naik angkot nomor berapa.
Setau  abang kalau angkot yang ke Padang Bulan itu nomor 110, 123 (warna kuning) banyak sih, tanyak aja.
Sebenernya kalau sekarang banyak orang naik kereta, tapi gak apa, soalnya abang kesana naik angkot, jadi abang share aja.
Jadi kalau kelen udah sampai Padang Bulan (simp. Pos, dibawah fly over), kelen cari loket bus ke gunung Sibayak, yang arah Berastagi.
Banyak kok, ada Sumatera (sutra), borneo, ada sinabung juga, kalau dulu ongkosnya cuma 10.000, sekarang gak tau.
Kelen bilang aja mau ke Sibayak, oh iya, diloket itu kelen gak ada tiket atau karcis, jadi masuknya "siapa cepat dia dapat", perjalanan kurang lebih 3 jam. Sebenernya rute mau ke Sibayak itu ada 2, bisa dari Sidebug-debug, atau dari pasar buah. (Oke nanti kita bahas).
******************************************
Jadi, kalau kelen udah didalam bus, selamat menikmati perjalan, sekalian lanjut cerita abang tadi ya, jadi dari Padang Bulan tadi, angkot abang gak berhenti, abang lanjut lagi, nanti berhentinya di simpang Tuntungan, arah mau ke Pancur Batu.
Sampai disana kami agak nunggu lama, ya sekitar 30 menit, bekerak juga ya πŸ˜‚. Udah agak lama nunggu datang juga bapak itu naik kereta KLX, sama kawannya naik kereta Scorpio kalau gak salah. Abang sama bapak itu, kawan abang sama kawannya bapak itu.
Perjalanan dimulai, bruuuuuuuummmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm............🚡🚴.
******************************************
Jadi, dalam perjalanan nanti kelen bakal ngelewati pajak(pasar) Pancur Batu, terus ke Penatapan (suasananya itu kayak warung makan di Puncak Bogor), Bumper Sibolangit, terus nanti jumpa pemandian air panas Sidebug-debug.
Pemandiaan air panas Sidebug-debug
Nah, ini jalur 1 untuk pendakian gunung Sibayak, nanti simpangnya kek gini gambarnya.

Posisinya sebelah kanan jalan dari arah Medan. Jalur ini ramah bagi pendaki pemula, karena kita bisa bawa kendaraan pribadi (termasuk roda 4) sampai di basecamp kaki gunung, ya walau agak serem-serem gitu perjalanannya.
Cuma nanti kita bisa singgah dipemandian air panas Sidebug-debug. Baca suasananya disini. 
Nah kalau kelen naik dari jalur ini sedikit ringan, karena setelah sampai parkiran simpang 3, kelen jalan gak terlalu jauh untuk sampai di Basecamp.
Jalur 45 (Pasar Buah), Berastagi
Kalau kami gak lewat jalur sidebug-debug, jalur itu abang lewati dipendakian ke 2, bareng kawan 1 kelas naik mobil pick up, bak terbuka, yang biasa bawa kambing 🐐.
Kami lewat jalur Pasar Buah, jalurnya tetap dijalan utama, sampai nanti kelen masuk ke Berastagi, ada Tugu Karonya disebelah Pom Bensin, kelen turun dan belok ke kanan.
Jalur ini dibilang jalur 45, karena kelen harus berjuang jalan kaki dari Pom Bensin itu, iya jalan kaki, kalau kelen mau, numpang-numpang mobil lewat aja, mau kok.
Nah, di Pasar Buah ini kelen gak akan ketemu orang jualan buah, yang dijual itu oleh-oleh handmade, atau baju dengan gambar sablon kota Berastagi. Kenapa dibilang pasar buah?, Baca disini...
******************************************
Nah, lanjut cerita, kelen jalan kaki, abang naik kereta, jadi kelen jalan aja dari Pom Bensin itu, sampai nanti kelen ketemu hotel Sibayak Hills, kelen masukin jalan disampingnya, posisi hotelnya disebelah kanan kelen, nah kelen jalan kaki aja terus, agak tanyak-tanyak warga lokal aja kalau gak tau, tujuan kalian adalah Pos 1. Jadi, nanti ada juga angkot yang naik ke pos 1, tapi ongkosnya agak mahal sekitar 50.000/orang, makanya para pendaki milih jalan, seru kok, jalan bareng-bareng.
Nah, kalau abang dulu, jalan dari jam 10 pagi, sampai posnya jam 3 sore. Lama ya?, gempor kakinya. Kalau kelen bilang capek ya gak usah naik gunung πŸ˜‚πŸ˜.
Dari pos itu kelen daftar dulu(sebenernya gak ada efeknya sih kalau daftar atau enggak, tapi ikuti aja), nanti bayar administrasi juga, 10.000/orang, sama kayak di sidebug-debug juga ada bayar, tapi gak administrasi, cuma uang keamanan aja dari pemuda setempat.
Nah, kalau sudah selesai, kelen naik lagi keatas, jalan kaki. Diperjalanan sambil cerita-cerita aja, biar gak terasa capeknya, cuma karena  abang perjalanannya udah sore, jadi udah gelap pun masih diperjalanan, jadi kalau kita jalan kaki nanti bakal ngelewati hutan-hutan, karena udah gak ada lagi pemukiman warga disana.
Nanti bakal ketemu simpang 3 juga, jadi kalau ada yang dari jalur sidebug-debug, bakal ketemu disimpang 3 ini, dari simpang ini naik ke basecamp, jalan kaki sekitar 30 menit lagi, dan abang sampai di basecamp sekitat jam 8 malam😱😱, malem banget ya, itu lah perjuangan.
"Makanya pacaran sama pendaki aja, gunung aja diperjuangin, apa lagi kamu" asekkkk.
Akhirnya pasang tenda, masak-masak, makan, dan cerita-cerita lah.
Perjalanan belom sampai, karena kami pasang tendanya dibasecamp 1, dikaki gunung, dan kalau mau kepuncak sekitar 1 jam lagi jalan kaki dengan track landai keatas.
Dibasecamp ini kelen bakal denger suara helikopter, tapi itu bohong πŸ˜€, karena suara gemuruh itu, suara dari gas belerang dikawahnya, dipuncak.
Karena mendaki itu gak puas rasanya kalau gak liat sunrise, jadi kami harus bangun jam 3 subuh biar bisa dapat moment sunrise, bayangin lah itu kek mana dinginnya. Jadi sekitar jam 10 malam baru pada tidur, abang sih belom, karena jaga tenda, tapi gantian sih, jadi abang ada tidur juga sebentar.
Oke, beberapa jam kemudian πŸ˜‚πŸ˜, jadi kami bangun jam 3, siap-siap, kemas-kemas, tapi gak bongkar tenda, jadi barang-barang tas aja yang dibawa, karena tasnya gak terlalu banyak isinya, jadi tasnya dibawa keatas. Tendanya tetap berdiri.
Sekitar jam 3:30 subuh kami mulai naik keatas, dinginnya wah, luar biasalah bagi yang gak terbiasa, suasana masih gelap gulita, cuma ada cahaya kayak bintang-bintang jauh dari tenda para pendaki yang lain.
Kami jalan, masih meraba-raba, karena pencahaan cuma pake senter doang, jadi gak terlalu luas pandangannya, dan juga abang baru pertama kali mendaki gunung, dan ini jadi moment berharga banget, melihat sekarang abang menghabiskan waktu menjadi traveller dan keliling Indonesia sendirian.
Perjalanan dingin, gelap gulita, gak tau dimana kami sekarang, tapi yang pasti yang abang liat cahaya bintik itu kayak lagi dikonser, banyak kali, udah gitu berjajar zigzag dari bawah ke atas, karena pendaki udah pada banyak yang jalan mau ke puncak.
Kami ikutin jalannya, semakin keatas semakin keras suara gemuruh dari gas belerang yang keluar dari kawah gunungnya, sebenernya gunung ini udah mati, terakhir meletus sekitar tahun 1881 dan sampai sekarang, sekarang tinggi gunung Sibayak sekitar 2.212 Mdpl
Pelan-pelan kami naik, karena masih gelap, rasanya abang jalan dibibir kawahnya, mulai agak susahsih, harus sedikit merangkak-rangkak naik keatas dan memanjat batu-batu besar, tapi ujung-ujungnya kami tarik-tarikan, biar aman. Dan sampailah kami diatas, dipuncak. Yang terlihat masih biasan cahaya sunrise nya, mataharinya belum muncul, dan lihat kebawah kelap-kelip lampu dari kota Berastagi.
Karena suasana masih dingin, dan makin dingin karena dipuncak, bapak kamipun masang kompor, dan buat coklat panas.


Dan jika kelen berada pada posisi abang sekarang, abang gak bisa mengungkapkan perasaan abang kagum dengan apa yang abang lihat, dan kelen harus lihat ini sendiri. AMAZING.......
Ini koleksi fotonya
Dan dari sana abang bisa lihat apa yang namanya  negeri diatas awan. Dan semua duniapun mulai terlihat. Dari sana juga abang bisa lihat gunung Sinabung yang sedang berawan panas, ada juga gunung Kembar, katanya kalau kita dipuncak gunung Kembar anginnya kencang, karena angin yang lewat.
Dari atas sini juga abang bisa lihat kota Berastagi yang kecil, yang mulai mematikan lampunya satu-satu.
Dari sini juga abang bisa membayangkan apa yang abang lalui tadi pas pendakian, karena jalurnya mulai terlihat, dan ternyata disana, dikawah juga banyak orang yang masang tenda, gak kebayang gimana bisingnya, dan gak bisa tidur mungkin, menurut abang, karena abang masih baru.









Oke, diatas menikmati alam ini dan gak ada rasa puas melihatnya, padahal gak dimakan, tapi terus nagih. Sampai jam 10 pagi kami masih diatas, foto-foto, dan beranjak turun, karena diatas makin rame.
Dibawah kami singgah kekawah gunung Sibayak, baunya mulai menyengat, dan kami ukir-ukir nama ditanah, #jangan_ukir_nama_dibatu ya, karena itu akan merusak alamnya, kami juga ngambil sedikit bongkahan belerang, buat oleh-oleh πŸ˜‚.
Nah, jadi cerita ini mewakili kelen para pendaki gunung Sibayak, semoga diterima dan bisa menjadi inspirasi buat para traveller yang main ke kota Medan, buat singgah dan berjuang ke gunung Sibayak.
Sebenernya dari gunung Sibayak ini kami gak langsung pulang, tapi kami singgah ke air terjun alami, air terjun Sampuren Putih, tempatnya turun ke kota Sibolangit, tapi abang ceritakan dilain waktu ya.


Thanks ya, udah main ke blog abang.
Follow juga 
Instagram: Retro Traveller
Youtube.   : retro traveller
Email.        : mufaisal0@gmail.com








Posting Komentar untuk "Pendakian Gunung Sibayak | gunung sahabat pendaki - pendakian pertama"