Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jalan-Jalan Sambil Mengajar - 1000 Guru Riau - Siak

 



Peduli Pendidikan Pedalaman I SD N 24 Tanjung Pal I 1000 Guru

foto bersama relawan 1000 Guru, Kepala Dusun, Guru dan Siswa SDN 24 Tanjung Pal


Jadi kali ini aku bakal berbagi cerita tentang perjalanan aku dan kawan-kawan dari komunitas 1000 Guru Riau,  dalam Kegiatan travelling and teaching,  selama 3 hari dipedalaman kabupaten Siak, Riau, dan yang pastinya buat teman-teman yang peduli pendidikan di negeri ini harusnya ikut merasakan hal yang sama.

Mungkin kawan-kawan sudah menyelesaikan masa pendidikan SD nya, entah itu di kampung atau di kota, dan mungkin semuanya sudah lengkap, dari itu kondisi sekolahnya, transportasi ke sekolahnya, atau mungkin ilmu yang kita dapat, dan bahkan support dari orang tua kita juga, mungkin semua terasa biasa-biasa aja, padahal dimata mereka itu hal yang sangat mereka harapkan.

Lalu bagaimana perasaan kawan-kawan, kalau ternyata masih ada adik kita tingkat SD yang tidak merasakan itu, atau mungkin berseberangan 180ยบ dengan yang kawan dapatkan, kondisi sekolah yang mungkin perlu perhatian, belum lagi trasportasi mereka yang harus menggunakan kapal, dan itu pun kapal bantuan dari perusahaan swasta (swasta loh, harusnya yang bertindak lebih itu pemerintahnya ya?), belum lagi keterbatasan guru yang ada disana, ditambah lagi dukungan dari orang tua yang kurang, bayangkan! tingkat SD loh, bagaimana kalau tingkat SD saja mereka tidak selesai, di zaman sekarang loh, 2018, era millenial, gak kebayang deh bakal masih ada gak itu desa 10 tahun kedepan, atau mungkin wilayah mereka sudah jadi milik perusahaan asing.

Jadi itulah alasan aku untuk travelling keliling Indonesia untuk menjadi abdi buat negaraku sendiri, dan ikut hadir dalam kegiatan travelling and teaching  ini, dan ini kali ketiga aku, setelah sebelumnya hadir di Kelas Inspirasi Deli Serdang dan Kelas Inspirasi Binjai Raya. Dan mungkin akan terus berlanjut.

Oke baiklah, ini aku ceritakan.

saat kegiatan mengajar
Pin Nama Dan 1000 Guru Riau
Mungkin sebagian kawan-kawan sudah kenal ya, atau mungkin sudah pernah ikut komunitas 1000 Guru, karena komunitas ini sudah ada 37 regional seluruh Indonesia.
Dan untuk 1000 Guru Riau ini, aku ikutin karena ya memang itukan tujuan awal aku keliling Indonesia, hanya saja ceritanya, aku kan baru datang ke Pekanbaru 3 minggu yang lalu, karena sebelumnya aku tinggal di kampung, daerah Duri, lumayan jauh, masuk kedalam hutan juga, jadi agak sulit jangkauannya, karena aku sedang menulis buku, perlu jaringan internet untuk berkomunikasi dengan rekanku. Itulah sebabnya aku datang ke Pekanbaru, karena di kota, jadi bisa memanfaatkan jaringan internet.

Oke singkat cerita, karena aku juga sudah follow akun instagram 1000 Guru Riau, dan aku langsung tanya lewat DM, kapan ada kegiatan dan rekruitment volunteernya,

Dijawabnya “pantau aja kak akun instagram 1000 Guru Riau, sebentar lagi akan ada open recruitment.” Kata adminnya.

”oh, oke lah kak.” Kujawab lah ya kan.

Dan sekitar seminggu setelah itu, aku dichat, dikasih tahu kalau open rekrutmennya sedang berlangsung, jadi, langsung saja aku daftar,aku sangka gak bakal lolos, ternyata eh ternyata, setelah 2 hari dari pendaftaran, aku di chat lagi, yang ngasih tahu kalau aku lolos pendaftaran, dan langsung saja aku transfer uang registrasinya, (uangnya untuk keperluan kami juga ya, karena kegiatannya berbentuk relawan, jadi mulai dari makan, transport, dan menyediakan donasinya itu ya dari kita-kita juga, jadi biar gak ribet patung-patungan, langsung saja dikumpulkan dari awal registrasi).

Jadi setelah kita lolos pendaftaran, kita akan dibagi menjadi team kecil, nah team itu yang akan jadi pengajar di setiap kelas nantinya, dan aku dapat team yang warr biassa, kalau boleh disebutkan, namanya Amel dan Nada, yess, dan aku yang paling ganteng, karena cowok sendirian, dan kami dapat materi untuk mengajar metematika nantinya.

Seminggu setelah itu, kita technical meeting, ya sekedar membahas dan berkumpul saja, agar saling kenal juga. Dan akan berangkat 3 hari setelahnya.

Bangunan Anjung Seni Idrus Tintin, lapangan MTQ Pekanbaru, tempat aku dan teman-teman berkumpul untuk berangkat bersama dari pekanbaru
Dan ini yang kita tunggu, its travel story.

Di hari jum’at, 7 Desember 2018, kami panitia dan relawan pengajar berkumpul di meeting point, lokasinya di lapangan MTQ, Pekanbaru. Aku datang sekitar 07:30 pagi, soalnya saat TM, kalau sampai jam 8 belum datang, akan ditinggal, ehhhh... malah busnya datang 08:30 (kecewa).

Dan akhirnya Tayo yang ditunggu datang juga (setelah cerita-cerita, ternyata ada kendala dengan busnya, jadi bus yang ini bukan bus yang kami sewa, ini bus penggantinya, makanya datangnya agak telat). Baiklah, kami pun langsung kemas barang, dan langsung berangkat, cuuuuusssss.

Tapi buat kawan-kawan, maaf ya, karena aku gak tahu nama-nama jalannya jadi aku gak bisa jelaskan rute kesananya, barangkali kawan-kawan ada yang mau kesana juga suatu hari nanti ya? Tapi kalau misalnya dengan aku yang naik bus sewa sama kawan-kawan, perjalanan kami dari lapangan MTQ ini akan menuju ke kabupaten Siak.

Dalam perjalanan masih agak terkesan kaku sih, karena banyak dari kami yang sebelumnya belum saling kenal, hanya berkomnikasi lewat grup Whatsapp, dan ketemu 1 kali saat TM, jadi kebanyakan agak kaku, cuma kalau aku, you know lah, semua suasana bisa cair (hahahah ketawa kemenangan).
Perjalanan dari Pekanbaru ke Siak ini memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sampai di Siak karena kebetulan itu hari Jum’at, jadi kita singgah dulu kemesjid untuk shalat jum’at. Selagi yang cowok shalat, yang cewek makan siang, gantian juga sih, kami selesai shalat, langsung makan, ceweknya lanjut shalat.

 
cewek yang kelaparan

Oke, lanjut. Jadi setelah kami selesai shalat dan makan siang, kami lanjut perjalanan menuju pelabuhan Sungai Apit. Perjalanan kesana itu sekitar 2 jam lebih, karena kondisi jalan kesana terhitung buruk, tracknya tanah, kalau hujan pasti banyak genangan air, belum lagi jalanan yang berlubang, jadi supir pun harus extra hati-hati dan pelan-pelan, biar kepala gak terantuk (terjedut).
Suasana jalan menuju ke pelabuhan itu, seperti menyusuri hutan semak, jarang ada pemukiman, ada tapi jaraknya berjauhan, kondisinya sudah terpasang tiang listrik, hanya saja kondisi jalanannya yang mungkin perlu perbaikan.
Ya.... hampir bosan sih, goyang-goyang kepalanya. Tapi ya lumayan lah kalau buat aku yang suka jalan-jalan dan adventure, jadi merasa seperti off-road. Disini salah satu panitia sudah menunngu, namanya bg Eky, dia naik motor sama salah satu guru di SD N 24 Tanjung Pal, yang akan kami kunjungi ini (setelah aku tahu saat berbincang dengannya dikapal), karena aku kira bapak itu orang tua bang Eky yang mengantarnya sampai pelabuhan. Yahhhh... dan akhirnya setelah gila-gilaan di jalur off-road habis, kami sampai juga di pelabuhan, alhamdulillah, sudah tipis ini pant*t :D.

model Jaga Barag
kakak panitia yang lagi bungkus nasi

Sepertinya perjalanan kami dari tadi harus ditemani dengan menunggu, karena setelah lebih dari 2 jam kami loncat-loncat karena jalan yang rusak, dan sekarang harus menunggu lagi karena kapal yang akan mengantar kami ke dusun Mungkal belum datang, Warr biassa, waiting again.
Tapi mungkin ada baiknya, karena mereka juga sedang menikmati suasana angin di pelabuhan, sepoi-sepoi, sejuk.
Ya, dan aku sambil menunggu, masak air panas, buat kopi, tapi sayang, gak ada foto abang ganteng ini pas lagi masaknya :D.
Hampir 1 jam juga kami menunggu kapalnya, tapi belum datang juga, (tiik tuuk tiik tuuk tiik tuuk) yahh dan akhirnya, setelah mungkin panitia, pak guru dan supir berbincang-bincang, kami akan menggunakan kapal milik perusahan swasta disana, yang biasanya digunakan untuk antar-jemput siswa dari desa lain yang akan sekolah ke SD N 24 Tanjung Pal yang juga akan kami kunjungi nantinya.
Oke, next, setelah ini, kami langsung angkut barang bawaan ke kapal, ya biar langsung go away.
Jadi memang jika kita ingin berkunjung ke dusun itu, jalur satu-satunya adalah menyusuri sungai Apit ini dengan kapal, karena memang tidak ada jalur daratnya (saya masih bertanya, tidak ada jalur daratnya, kenapa bisa ada dusun disana?)


 



Ket: dan ini wajah bohong, sebenernya mereka sudah ngantuk (, ini efek depan kamera, hahah)

Yahh, ini kesekian kalinya aku naik kapal, terakhir lebaran kemarin saat travelling ke Pulau Pari, di Kepulauan Seribu.
Jadi ya lumayan sih suasananya, apalagi saat itu hampir maghrib, garis kuning senja hadir, menyematkan hangatnya langit.
Dan aku duduk didalam, disamping nakoda, sambil berbincang-bincang dengan pak guru, yang setelah aku kenal ternyata namanya pak Ningrat.

Dan ternyata dari dia aku tahu beberapa sedikit tentang sekolah itu. Jadi katanya SD itu pertama kali didirikan sekitar 2003 an, dan pak Ningrat adalah guru pertamanya dan satu-satunya guru disana yang mengajar kelas 1-6 selama kurang lebih 2,5 tahun. Kenapa Cuma 1 guru? Karena sebelumnya, sekolah ini adalah anak dari induk SD N 18 Tanjung Pal, jadi selama itu pak Ningrat lah yang harus mengurus semua nya bolak-balik dengan kapal, apalagi saat ujian tiba, dia harus mengambil soal ke SD N 18 Tanjung Pal, dan harus mengantarkan hasil ujiannya juga, belum lagi beliau juga harus membujuk ke rumah orang tua, apabila ada anak yang tidak datang kesekolah hanya karena disuruh membantu orang tuanya dirumah.

Ket: ini dia sosok luar biasa bagiku dan anak-anak SD N 24 Tanjung Pal, aku dan pak Ningrat


Dan sejak 2016, barulah SD N 24 Tanjung Pal ini punya induk sendiri, sudah ada kepala sekolahnya, dan struktur organisasinya, walaupun sebenarnya keberadaan guru disana masih belum mencukupi untuk memberikan kriteria pendidikan yang standart, masih membutuhkan tenaga pendidik disana, bayangkan, PNS nya saja hanya 1 orang, itupun kepala sekolahnya, guru yang lain, hanya sebatas guru honor, ya semoga saja, dan pastinya kita mengharapkan akan ada guru muda yang akan hadir disana, menemani, mengajar, dan mengispirasi mereka untuk menjadi orang yang akan membangun desa itu di kemudian hari, aamiin, karena kehadiran kami mengajar hanya 1 hari.

Pak ningrat ini aslinya orang Jawa, tinggal di daerah Meranti, jadi dia di dusun itu tinggal di rumah dinas dekat sekolah, istri dan keluarganya tingal di Meranti, pengabdian yang warr biasa, salut pak.
Jadi, sebenarnya dalam perjalanan menuju dusun mungkal ini, kita bisa melihat pabrik disana, ya seperti pabrik pembuatan kertas Akasia. Dan setelah aku berbincang-bincang dengan nakoda kapalnya, pak Izhar namanya. Sebenarnya pihak pabrik itu juga menggunakan kapal untuk keperluan operasional transportasinya, dan pastinya mereka juga memerlukan jalur darat, untuk memperkecil biaya tranportasinya, dan mereka bisa saja membuat kan jalan untuk operasional pabrik, hanya saja pastinya orang umum yang tinggal disana pasti juga akan menggunakan jalan itu, dan itu sebabnya pihak pabrik tidak membuat jalan, dan itu juga asal-usul kenapa dusun disana tidak memiliki akses jalur darat untuk keluar-masuk dusun, berarti kesimpulannya pihak pemerintah dan pabrik harus membuat suatu pertemuan untuk membicarakan tentang ini, bagaimana? kawan-kawan setuju tidak?

Ket: itu dia view pabrik akasia nya, besar ya


Jadi kata pak Izhar, karena tidak ada jalur daratnya, dan ada siswa yang berada dari dusun yang berbeda dengan tempat sekolah mereka, maka mereka harus naik kapal melawati pesisir sungai (sebenarnya wilayah ini adalah perairan Selat Malaka), tapi mungkin plukers akan mengira, mahal dong kalau harus naik kapal pulang pergi tiap hari, jawabannya tidak, karena masih ada perusahaan swasta yan memperhatikan mereka, yups, perusahan swasta tempat pak Izhar bekerja yang memberikan fasilitias antar jemput gratis untuk anak-anak sekolah SD N 24 Tanjung Pal, dan ini lah kapal yang kami tumpangi yang digunakannya.

Ket: ini dia pak Izhar, pose nya gak pas


Jadi, kata pak Ningrat juga, kegiatan 1000 Guru ini, adalah kegiatan komunitas peduli pendidikan pertama kali yang berkunjung ke sekolah SD N 25 Tanjung Pal. Dulu ada mahasiswa KKN disana, tapi hanya 1 hari saja katanya, (KKN apa satu hari ya?) tidak menginap. Jadi ya pak Ningrat berharap sekali, akan ada terus yang berpartisipasi memberi motivasi, dan semangat buat adik-adik disini (itu, ayoo, beri dukungan kita, semangat membantu sesama).
Oke, setelah akhirnya cerita panjang singkat bareng pak Izhar dan pak Ningrat, sekarang kita lihat kondisi teman-teman, dan ternyata mereka sudah terkapar (hahha), ya sejenak merasakan lembutnya senja berganti malam, kami memetik gitar, menghibur malam, sedikit bernyanyi penggalan lagu dari fourtwnty. Dan ternyata perjalanan masih 1 jam lagi, beeuuuhhhh.

 

Oke, dan lebih dari 2 jam juga kami menyusuri sungai ini, dan akhirnya sampai juga di dusun Mungkal, benar-benar perjalanan yang melelahkan kalau kalian ada disana, dan hampir seluruh perjalanan dihabiskan hanya dengan duduk menunggu sampai beuuhhh.

Jadi sampai disana kami sekitar jam 7 malam. Dan luar bisa banget, kami disambut dengan acara adat mereka, layaknya tamu terhormat, bangga sekali diriku sekaligus terharu, dan mereka sudah menunggu kami sejak tadi sore (maaf banget ya, karena terkendala dalam perjalanan). Sumpah keren abis.

Tapi ya 1 lagi ini, karena keadaan air laut surut, dan kami berada dibawah sekitar 2 meteran lah, dan harus naik tangga curam, aku sih gak masalah, masalahnya bawaannya itu loh, segudang, terpaksa deh estafet, dan pegel juga ini tangan, serasa habis pelumasnya di persendian (haha,, majas banget ya).

suasana penyambutan dengan acara adat

Tapi ya, cewek nya saja yang enak, selesai naik, sudah pergi, ditinggalnya kami, aseem. Sisanya ya kami cowok 6 orang, dibantu pak Ningrat dan pak Izhar ngangkat barangnya satu per satu, dan bessss capek banget dah, perasaan mau langsung tidur saja.

Tapi ternyata, setelah sampai di desa, dan sudah ramai warga menyambut kami, dan sudah disiapakan acara sedemikian rupa, dan oke, kayaknya gak bisa langsung tidur nih. Saatnya duduk tenang dan saksikan.
Mereka memberikan kami sambutan sederhana tapi menyentuh hati, bisa kenal dengan orang-orang yang hebat, dan berjiwa pahlawan, mengajar di pedalaman ini.

Dan saat penyambutan dari kepseknya jujur, aku ikutan sedih dan hampir meneteskan air mata, padahal yang ibu itu sampaikan karena terharu bangga atas kehadiran kami, dan bangga juga dengan adik-adik disini yang semangat juga, hanya latihan 10 hari untuk semua tarian yang disajikan hanya untuk menyambut kami, saluuuuuuuut.

Sebenarnya tadi pak Kepala Desa nya sudah hadir ingin menyambut kami juga, tapi karena kenyataannya kami terlambat banget jadi beliau minta maaf harus pulang lebih dulu, tapi tetap ada yang di banggakan karena ada pak Kepala Dusun yang datang kesana, Kadusnya itu keren, punya cerita menarik dengan speedboatnya dihari ketiga.
Oh ya nih aku perkenalkan sedikit ibu kepala sekolah yang luar biasa ini ya
 
Namanya Ponija S.Pd, yes dari namanya sepertinya dia orang Jawa, kelahiran Sungai Rawa, pernah mengajar di Kerinci Kanan, dan sekarang dia kembali kedaerah asalnya disini, dan baru jadi kepala sekolah 2,5 tahun terakhir, good luck bu, semangat selalu ya.
Keren sumpah, gak nyesal duduk disana, walaupun mereka di pedalaman, tapi semangat mereka luar biasa, hebat banget, dan aku pun ikut joget disana, tapi gak ada fotonya di hp aku, pokoknya kelelahan seharian itu hilang, setelah duduk beberapa jam, dan pastinya karena ada makanan juga (hahah).

Oke kawan-kawan, terima kasih sudah membacanya, dan ini hari pertama, mungkin lusa akan aku ceritakan hari selanjutnya, karena yang pasti hari pertama ini keren malamnya, karena hampir bosan seharian di perjalanan. Tapi yang pasti tetap semangat berbagi, salam 5 jari.
Dan setelah ini kami akan makan malam, dan istirahat, siapkan energi untuk besok mengajar.

Oke bye bye, besok lagi ya
#1000gururiau #travellingandteaching #berbagi #pedalaman #inspirasi #semangat #motivasi #

Posting Komentar untuk "Jalan-Jalan Sambil Mengajar - 1000 Guru Riau - Siak"